Saturday, October 11, 2008

Untuk Calon Ayah

Dukungan calon ayah, bukan hanya akan menenteramkan si calon ibu, juga akan membuat sang jabang bayi bertumbuh sehat dan optimal. Berikut ini adalah beberapa hal yang bisa dilakukan calon ayah untuk mendukung istri yang sedang hamil.

* Pastikan istri Anda mendapatkan perawatan medis yang baik sejak awal kehamilannya. Dukung ia menepati semua jadwal kunjungannya ke dokter.

* Bantu ia mengikuti anjuran diet terbaik. Bila perlu, Anda pun melakukannya. Dengan begitu, selain istri lebih setia mengikuti diet, Anda pun mendapatkan manfaat bagi kesehatan Anda.

* Pastikan istri Anda tak mengonsumsi zat-zat yang dapat membahayakan kehamilannya, seperti alkohol, obat-obatan, dan tembakau. Anda pun sebaiknya berpantang, setidaknya saat berada di hadapannya.

* Kurangi stres fisik dan emosi istri. Tak ada salahnya Anda membantunya mengerjakan tugas-tugas rumah tangga yang biasanya ia lakukan. Dukung ia agar mau mengurangi beban kerjanya.

* Kenali tanda-tanda kemungkinan masalah pada kehamilan dan masa pascalahir. Bila istri Anda tampak mengalami tanda-tanda tersebut, segeralah bertindak. Bila perlu, hubungi dokter atau bawa dia ke rumah sakit.

* Anda mungkin memiliki ketakutan-ketakutan tertentu akan kehamilannya. Bagikan perasaan itu kepada istri. Siapa tahu ia juga punya perasaan yang sama. Dengan demikian akan meringankan beban Anda berdua, atau setidaknya membuat beban Anda lebih ringan.

* Jangan berpikir bahwa apa yang Anda lakukan terhadap istri sebagai pengorbanan. Ingatlah, pengorbanan istri jauh lebih besar demi bayi Anda.

Friday, October 10, 2008

Teman Kecilku..


Saya memiliki seorang teman kecil yang lincah dan lucu, sebut saja namanya Rio. Keindahan masa kanak-kanaknya tidak bisa sepenuhnya dinikmati dengan kondisi keluarganya yang boleh dibilang berantakan. Dan sore tadi Rio saya ajak jalan-jalan melepas kejenuhan di pekerjaan.

Di sebuah keramaian kami bertemu dengan seorang anak muda yang saya tahu pernah andil dalam menghancurkan masa depan teman kacil saya. Rio tiba-tiba nyeletuk, "mas, ada om anu tuh."

Saya diam sejenak lalu bertanya, "kok sekarang manggilnya om. Kayaknya dulu kamu manggilnya ayah?"

"Itu kan dulu, mas. Sama ibu harus manggil ayah. Ibu juga manggilnya gitu."

"Trus, ke ayah kamu manggilnya gimana?"

"Ya ayah Rio. Kalo ke om itu ayah aja."

"Emang kamu suka ayahmu baru."

"Ya engga mau. Masa ayah diganti. Tapi kalo bilang gitu, ibu marah-marah. Jadi pura-pura nurut aja."

Saya diam lagi menarik nafas panjang. "Itu kan dulu, sekarang ayah Rio ga jadi baru dong?"

"Sekarang kan udah ada ayah baru lagi. Tapi jauh, cuma kenal di internet. Kata ibu lebih cakep dan lebih kaya dariada ayah Rio."

"Kamu mau?"

"Ya engga, tapi gimana. Tar malah diusir dari rumah seperti ayah Rio dulu. Pengennya sih ikut ayah aja, tapi ga boleh. Karena kata ibu ayah Rio jahat."

"Emang ayah Rio jahat..?"

"Biar jahat, Rio lebih suka ikut ayah. Soalnya ga pernah marah-marah kaya ibu. Juga ga pernah ganti-ganti ibu. Buat Rio, kejahatan ayah hanya satu, ayah terlalu pengalah."

"Masa sih ibumu jahat. Kelihatannya baik hati tuh sekarang."

"Sekarang memang baik karena dapat ayah baru yang kaya. Rio juga disuruh bilangin ayah Rio agar cepetan cari ibu baru biar ga gangguin ibu lagi."

Kali ini saya terdiam lama banget sambil menekan pedal gas dalam-dalam dengan harapan tekanan batin teman kecil itu ikut terbuang bersama asap knalpot.

Saya sendiri tak habis pikir. Ibunya yang sekarang kelihatan baik dan taat beribadah itu bisa sampai mengabaikan mental seorang anak kecil yang masih polos. Walaupun dia punya catatan buruk di masa lalu, tapi saya yakin dia tidak sejahat seorang teman perempuan saya.

Kalau kita buka penjelasan UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak di pasal 13 ayat d yang menyebutkan : Perlakuan yang kejam, misalnya tindakan atau perbuatan secara zalim, keji, bengis, atau tidak menaruh belas kasihan kepada anak. Perlakuan kekerasan dan peng¬aniayaan, misalnya perbuatan melukai dan/atau mencederai anak, dan tidak semata-mata fisik, tetapi juga mental dan sosial.

Tapi kenapa hanya kekerasan fisik saja yang disorot. Dan yang lebih menyakitkan adalah istilah Kekerasan Dalam Rumah Tangga itu lebih ditekankan pada kekerasan fisik suami kepada istri. Tapi kekerasan psikis ibu ke anak tidak pernah ada gaungnya, walaupun data Komisi Perlindungan Anak Indonesia telah berani menyebut angka kekerasan terhadap anak 80% dilakukan oleh ibu kandungnya.

Tidakkah terbayang apa yang ada dalam benak seorang anak kecil, disaat dia dipaksa untuk berkali-kali menyebut orang lain sebagai ayah? Sementara dia tahu ayahnya masih ada dan terusir dari rumah hanya karena terlalu pengalah? Tak usahlah kita pikirkan apa yang ada dalam otak sang ayah, karena bagaimanapun dia adalah manusia dewasa. Tapi begitu teganya seorang ibu kandung hanya demi "sesuatu yang lebih" mau merampas hak anak akan kasih sayang seorang ayah kandung.

Beda kasus kalau ayah kandungnya itu benar-benar tidak mau peduli atau benar-benar melakukan kekerasan di rumah itu. Walaupun tetap saja dalam sebuah konflik, pasti ada sebab akibatnya. Misalnya ibunya bisa berbuat seperti itu, karena memang ayahnya yang tidak mampu mendidik istri dengan baik. Mengalah tidak selamanya bagus buat kesehatan.

Bagaimana dengan ayah barunya? Saya bisa melihat dari dua sisi. Satu sisi dia salah. Dia masuk ke wilayah konflik, sehingga memicu perpecahan semakin besar karena salah satu pihak merasa memiliki tempat pelarian. Di lain sisi dia tidak bisa sepenuhnya disalahkan, karena mungkin dia hanya memperoleh informasi yang sepihak. Sehingga timbul iba dan belas kasihan setelah melihat ada seorang perempuan lemah yang menghiba-hiba mengumbar penderitaan dan teraniaya. Niatnya baik, menolong sesama yang lemah, walaupun mengabaikan ada pihak lain yang juga menjadi teraniaya dengan tidak melakukan crosscheck ke berbagai sumber.

Huuuh... persetan lah.
Malah jadi sibuk mikirin orang lain. Sudahlah, mendingan kembali ke habitatnya masing-masing walaupun saya pun orang yang terbuang. Semoga saja teman kecilku itu bisa menemukan kembali kebahagiaannya yang hilang. Dan orang-orang yang tanpa sadar menganiaya temanku itu segera sadar. Dan semoga Tuhan tak pernah kehabisan maaf untuk mereka yang mengatasnamakan cinta tapi merusak definisi cinta itu sendiri.

Tetap semangat teman kecilku...
Saya akan tetap menjadi teman baikmu...
Seperti halnya kesunyian jiwa yang setia menemani hidupku...
Semoga...

Terror Terhadap Anak di Sekolah


KASUS bullying (teror) di lingkungan sekolah jangan dianggap wajar. Bullying bisa terjadi pada semua tingkatan sekolah, mulai dari TK hingga SLTA, bentuknya bisa berupa pengucilan, pelecehan, pemalakan, intimidasi, ejekan, gosip, fitnah, serta kekerasan fisik atau mental secara luas.

Menurut data PACER Center (organisasi yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup anak dengan keterbatasan), di Amerika Serikat setiap tahun ada 3,2 juta anak yang jadi korban bullying, dan lebih dari 160.000 anak membolos setiap hari karena trauma dengan teror yang diterimanya di sekolah.

Bila bullying tidak ditanggapi serius, pelaku bullying bisa tumbuh menjadi pribadi sewenang-wenang, sementara korban bullying jadi orang yang tak percaya diri, tertekan, bahkan menjadi pelakunya. Karena itu, lindungi si kecil dari bahaya bullying, baik sebagai korban atau pelaku.

- Jangan anggap remeh
Masih banyak orangtua yang menganggap kakak kelas mengintimidasi adik kelas sebagai sebuah tradisi, demikian juga perlakuan kasar yang diterima anak dari temannya sering diabaikan karena akan berlalu seiring dengan waktu. Saatnya untuk mengubah pandangan tersebut. Jalin komunikasi yang dalam dengan anak, berilah perhatian lebih bila anak tiba-tiba murung dan malas ke sekolah.

- Ajari anak untuk melindungi dirinya
Ajari anak untuk bersikap self defense dalam arti menhindari diri dari korban atau pelaku kekerasan. Katakan kepadanya, "Kalau kamu dipukul temanmu, kamu harus memberitahukan kepada Ibu Guru." Bukan malah mengajarkan perilaku membalas atau menggunakan kekuatan dalam mempertahankan diri. Selain itu, ajarkan pula untuk bersikap asertif atau mengatakan "tidak" terhadap hal-hal yang memang seharusnya tidak dilakukan.

Selain itu, jangan biasakan anak membawa barang mahal atau uang berlebih ke sekolah karena bisa berpotensi menjadi incaran pelaku bullying. Pupuk kepercayaan diri anak, misalnya dengan aktif mengikuti kegiatan ekskul.

- Bina relasi dengan guru dan orangtua murid
Bina relasi dan komunikasi yang baik dengan guru di sekolah atau orangtua murid lainnya. Anda bisa mendapatkan informasi adanya kasus bullying atau melaporkan kepada guru bila si kecil bercerita mengenai temannya yang dipukul, misalnya.

Thursday, October 9, 2008

Ciri-ciri Anak Berbakat

Dalam bukunya, Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah, Prof. Utami Munandar menuliskan indikator keberbakatan sebagai berikut:

* Ciri-ciri Intelektual/Belajar:
Mudah menangkap pelajaran, ingatan baik, perbendaharaan kata luas, penalaran tajam (berpikir logis-kritis, memahami hubungan sebab-akibat), daya konsentrasi baik (perhatian tak mudah teralihkan), menguasai banyak bahan tentang berbagai topik, senang dan sering membaca, ungkapan diri lancar dan jelas, pengamat yang cermat, senang mempelajari kamus maupun peta dan ensiklopedi.

Cepat memecahkan soal, cepat menemukan kekeliruan atau kesalahan, cepat menemukan asas dalam suatu uraian, mampu membaca pada usia lebih muda, daya abstraksi tinggi, selalu sibuk menangani berbagai hal.

* Ciri-ciri Kreativitas:
Dorongan ingin tahunya besar, sering mengajukan pertanyaan yang baik, memberikan banyak gagasan dan usul terhadap suatu masalah, bebas dalam menyatakan pendapat, mempunyai rasa keindahan, menonjol dalam salah satu bidang seni, mempunyai pendapat sendiri dan dapat mengungkapkannya serta tak mudah terpengaruh orang lain, rasa humor tinggi, daya imajinasi kuat, keaslian (orisinalitas) tinggi (tampak dalam ungkapan gagasan, karangan, dan sebagainya.

Dalam pemecahan masalah menggunakan cara-cara orisinal yang jarang diperlihatkan anak-anak lain), dapat bekerja sendiri, senang mencoba hal-hal baru, kemampuan mengembangkan atau memerinci suatu gagasan (kemampuan elaborasi).

* Ciri-ciri Motivasi:
Tekun menghadapi tugas (dapat bekerja terus-menerus dalam waktu lama, tak berhenti sebelum selesai), ulet menghadapi kesulitan (tak lekas putus asa), tak memerlukan dorongan dari luar untuk berprestasi, ingin mendalami bahan/bidang pengetahuan yang diberikan, selalu berusaha berprestasi sebaik mungkin (tak cepat puas dengan prestasinya), menunjukkan minat terhadap macam-macam masalah "orang dewasa" (misalnya terhadap pembangunan, korupsi, keadilan, dan sebagainya).

Senang dan rajin belajar serta penuh semangat dan cepat bosan dengan tugas-tugas rutin, dapat mempertahankan pendapat-pendapatnya (jika sudah yakin akan sesuatu, tak mudah melepaskan hal yang diyakini itu), mengejar tujuan-tujuan jangka panjang (dapat menunda pemuasan kebutuhan sesaat yang ingin dicapai kemudian), senang mencari dan memecahkan soal-soal.

Wednesday, October 1, 2008

Mengenalkan Internet Kepada Anak

Sebagai orangtua, tentu kita ingin agar anak-anak maju dan "melek" teknologi. Namun, kita pun sadar, teknologi bagaikan dua sisi mata uang, punya sisi positif dan negatif. Bagaimana menyiasatinya?

Perkembangan teknologi yang sangat pesat saat ini mau tak mau membuat para orangtua harus mulai mengenalkan berbagai peralatan elektronik, baik itu teknologi digital, multimedia, hingga internet, kepada anak agar mereka mengerti dan bisa memanfaatkan teknologi sehingga siap menjadi sumber daya yang kompetitif di masa depan.

Tapi, maraknya pornografi yang dengan mudah menyusup ke berbagai peralatan teknologi kerap membuat resah para orangtua. Selain lewat situs internet, unsur pornografi juga dengan mudah bisa kita dapatkan lewat ponsel.


Pakar Telematika Indonesia, Roy Suryo, menyebutkan, kini situs-situs porno di internet memiliki alamat yang sama sekali tidak berbau porno. Tidak mustahil di sela pencarian bahan anak Anda untuk tugas sekolah mengenai serangga, misalnya, anak justru mendapatkan foto-foto atau adegan panas untuk orang dewasa.

Sebagaimana berbahayanya narkoba, orangtua semestinya juga menyadari pornografi tak kalah bahaya dalam menghancurkan masa depan seorang anak. Terlebih bila anak tak punya bekal pendidikan seks yang cukup. Shelomita (33) yang memiliki tiga anak, mengatakan, ia sengaja memperlambat perkenalan teknologi pada anak karena khawatir dengan dampak negatif teknologi tadi.

Padahal, Roy Suryo justru berpendapat agar anak dikenalkan pada teknologi sedini mungkin. Mulai kapan anak sebaiknya dikenalkan pada teknologi? Shelomita memilih mulai mengenalkan anak-anaknya pada komputer sejak mereka berusia tiga tahun. "Saya belikan mereka software pendidikan, seperti berkenalan dengan matematika," kata penyanyi yang kini memiliki lembaga pendidikan anak prasekolah ini.

Anak boleh dikenalkan pada teknologi sejak mereka mulai menunjukkan perhatian dan rasa ingin tahu dengan teknologi, kata Roy. Lalu, bagaimana caranya agar anak tidak "gaptek" tanpa mereka perlu bersentuhan dengan pornografi?

Saran Roy, orangtua sebaiknya mengenalkan teknologi dengan menyinergikannya lewat hobi anak. Misalnya bila anak suka main play station (PS), upayakan agar software PS bisa dibuka di komputer. Tujuannya agar anak bisa belajar menghidupkan komputer.

"Orangtua bisa memilihkan games yang sifatnya membangun, bukan peperangan, misalnya sim city. Orangtua harus bisa mengarahkan anak, sehingga anak tidak hanya bisa bermain tapi juga punya apresiasi terhadap perangkatnya," katanya dalam talkshow bertajuk Techno Kids - Kontroversi Perkembangan Teknologi Informasi Pada Anak, di Graha Unilever, Jakarta (23/9).

Alih-alih melarang anak menggunakan internet, Roy justru menyarankan agar orangtua ikut masuk dan belajar menggunakan teknologi. "Anak-anak zaman sekarang lebih fasih dengan teknologi, karena itu kalau bisa orangtua bisa menguasai semua yang dipegang anak-anak," paparnya. Itu sebabnya orangtua juga perlu belajar teknologi.

Bagi orangtua yang menguasai komputer dan multimedia, hal itu bisa dengan mudah diatasi. Bagaimana dengan orangtua yang tidak menguasai hal itu? Apakah orangtua perlu menunggui anak terus menerus selama mereka berselancar di dunia maya?

Bila ada waktu untuk menunggui anak, mengapa tidak? Namun, bila tidak memungkinkan, Roy mengatakan, saat ini sudah banyak fasilitas kunci atau filter agar anak tidak masuk ke situs-situs yang tidak sesuai. Misalnya saja netnanny, cyber patrol, cybersitter, safekids, dan sebagainya. "Yang gratisan juga banyak, tinggal cari saja di Google," ujarnya.

Cara lain, orangtua sebaiknya memfasilitasi anak-anak dengan teknologi informasi di rumah. "Jangan membiarkan anak ke luar rumah atau ke warnet karena kita tidak bisa mengontrol apa saja yang diaksesnya," tegas Roy. Orangtua juga bisa mencari piranti lunak yang memungkinkan kita melacak situs apa saja yang sudah ditelusuri anak. Atau tinggalkan jejak alamat sebuah situs yang bersifat edukatif agar anak bisa ikut-ikutan mengakses.

dari Kompas