Saturday, August 21, 2010

80% Kulit Bayi Bermasalah

"Sekitar 80 persen kulit bayi di Indonesia bermasalah," ujar dr Titi Lestari Sugito, SpKK, Ketua PPP Persatuan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia. Hal ini ia sampaikan pada acara Johnson's Baby Day yang berlangsung pada hari Sabtu (7/8/2010) di Rasuna Epicentrum, Kuningan, Jakarta.

Diterangkan oleh dr Titi, karakteristik kulit anak adalah sensitif, lembut, dan mudah teriritasi. Kulit merupakan organ terluar dan merupakan lini perlindungan pertama pada anak, "Sehingga, jika terjadi sesuatu pada anak, kulitlah yang akan paling dulu terkena. Kulit merupakan barrier pertama si anak. Lebih dari 80 persen anak pernah alami masalah kulit."

Itulah mengapa, ketika tidak terawat dengan benar, akan timbul masalah pada kulit. Pada dasarnya, struktur kulit bayi atau anak hampir sama dengan kulit orang dewasa. Namun, fungsinya belum berkembang sempurna. Penting untuk orang yang mengasuh bayi agar memerhatikan benar kesehatan kulit si bayi.

Dalam presentasinya, dr Titi menyampaikan beberapa penyakit kulit yang paling banyak menghinggapi anak-anak dan bayi, di antaranya:

- Dermatitis Atopik
Penyakit kulit ini biasa juga disebut dengan eksim susu. Ini adalah penyakit kulit terbanyak yang ditemukan pada anak-anak. Hal ini ditengarai dicetuskan oleh faktor eksternal, seperti detergen, polusi, debu, dan keringat akibat aktivitas. Ia terlihat seperti radang kronik (kemerahan), berulang, terasa gatal, dan bisa terjadi karena hipersensitivitas.

- Miliria
Dikenal juga dengan keringat buntet, penyakit ini juga sering sekali ditemukan pada anak-anak. Miliria biasanya terjadi pada daerah dahi, dada, dan punggung. Ia bisa dicegah dengan menjaga ventilasi udara dan memastikan udara di sekitar si anak cukup nyaman dan pakaian yang dikenakan juga menyerap keringat. Selalu memastikan kebersihan kulit si bayi dan tidak membiarkan keringatnya mengendap.

- Dermatitis popok
Disebut juga dengan ruam popok, dermatitis popok merupakan kondisi peradangan. Dijelaskan oleh dr Titi, belakangan, pasien yang datang akibat masalah ini makin banyak. Biasanya kesalahan terjadi pada orang yang mengasuh si bayi kurang tanggap terhadap keadaan popok si bayi. Seharusnya, ketika popok sudah mulai mau melebihi batas kapasitasnya, segera ganti, jangan biarkan urine terlalu banyak mengendap pada popok karena bisa kembali bersentuhan dengan kulit si bayi dan menyebabkan iritasi pada kulit. Jumlah urine yang dihasilkan oleh bayi berbeda-beda sehingga perlu kejelian dan kewaspadaan dari orang yang mengasuh si bayi. Hal ini paling sering terjadi pada waktu malam karena bayi paling jarang diganti popoknya pada malam hari.

- Dermatitis seboroik
Sering pula dikenal dengan "sarap", dermatitis seboroik adalah kondisi ketika kulit bayi bersisik, berkerak, kemerahan, berminyak, terutama di daerah kepala, muka, telinga, dada, dan lipatan. Ini biasanya terjadi karena hormon ibu yang menempel pada bayi saat di kandungan. Lama-kelamaan, kulit yang mengelupas ini akan hilang, lebih kurang selama 6 bulan.

"Kulit bayi dan anak relatif rentan terhadap berbagai kelainan kulit dibandingkan orang dewasa. Amat penting untuk orang yang mengasuh anak agar menjaga kesehatan kulit anak dengan selalu menjaga kebersihan kulitnya. Sebaiknya, selalu cegah masalah kulit dengan perawatan yang benar: membersihkan dengan sabun dan air, selalu melembabkan dengan lotion atau krim, dan gunakan bedak untuk mengurangi gesekan pada lipatan kulit anak.

Kompas

Menggendong Anak di Pinggang

Anda tentu mengenali cara orang Asia menggendong anak. Kebanyakan perempuan Asia menggendong anak di pinggang. Cara ini ternyata berbeda dari cara para perempuan di negara-negara barat, yang kadang-kadang menggendong sekenanya saja.

Bila hal ini terjadi pada Anda, tak perlu merasa ada yang salah dengan diri Anda. Justru, menggendong di pinggang memiliki keuntungan terhadap perkembangan fisik anak perempuan.

Persendian panggul anak terbentuk sesuai jenis kelamin. Perkembangannya dipengaruhi oleh hormon seks, selain oleh pengaruh bagaimana seorang anak perempuan dibesarkan. Untuk sehatnya, lebih baik jika anak perempuan dibiasakan mengikuti tradisi menggendong di pinggang layaknya gaya ibu Asia.

Dengan cara digendong seperti itu, persendian panggul anak perempuan berkesempatan mekar lebih lebar. Susunan sendi panggul berkembang lebih feminin, sehingga lebih lebar membukakan jalan bila melahirkan kelak.

Demikian pula pilihan buang air besar gaya nenek moyang kita yang memilih berjongkok, dan bukan duduk di kloset. Dengan membiasakan posisi berjongkok selama buang air besar sejak kecil, susunan persendian tulang-tulang panggul mendapat kesempatan berkembang lebih mekar melebar, alias berpanggul lebar.

Sumber: Buku Cantik, Cerdas & Feminin, oleh Dr Handrawan Nadesul

Friday, August 20, 2010

Merangsang Kecerdasan Anak

Untuk merangsang kecerdasan anak sejak dini, diperlukan stimulasi bermain sejak dini. Apakah stimulasi bermain sejak dini itu? Menurut Dr Soedjatmiko, SpA(K), MSi, dokter spesialis anak konsultan tumbuh kembang, stimulasi dini adalah rangsangan bermain yang dilakukan sejak bayi baru lahir. Rangsangan atau stimulasi ini sebaiknya dilakukan sejak janin masih berusia 6 bulan di dalam kandungan. Mengapa?

Stimulasi dipercaya dapat memengaruhi pertumbuhan sinaps (proses sinaptogenesis), yang membutuhkan banyak sialic acid untuk membentuk gangliosida, yang penting untuk kecepatan proses pembelajaran dan memori.

Rangsangan yang harus dilakukan dengan penuh kegembiraan, kasih sayang, dan setiap hari untuk merangsang semua sistem indera. Selain itu, harus juga merangsang gerak kasar dan halus kaki, tangan, dan jari-jari, mengajak komunikasi, serta merangsang perasaan yang menyenangkan dari pikiran bayi dan balita.

Rangsangan yang dilakukan dengan suasana bermain dan kasih sayang, sejak lahir, terus-menerus, dan bervariasi, akan merangsang pembentukan cabang-cabang sel-sel otak, melipat gandakan jumlah hubungan antar sel otak sehingga membentuk sirkuit otak yang lebih kompleks, canggih, dan kuat. Dengan demikian, kecerdasan anak makin tinggi dan bervariasi (multiple intelligence).

Lalu, bagaimana menstimulasi janin yang masih dalam kandungan? Si ibu atau ayahnya bisa melakukannya dengan berbicara dekat perut si ibu, menyanyikan lagu, membaca doa, lagu-lagu keagamaan, sambil mengelus perut si ibu. Dapat pula memperdengarkan lagu dengan menempelkan earphone di perut ibu atau si ibu juga mendengarkan lagunya. Ada sebagian literatur yang mengatakan bahwa mendengarkan lagu klasik baik untuk perkembangan otak anak. Jika memang ingin memperdengarkan lagu klasik pada anak, penting juga untuk si ibu menyukai lagu-lagu tersebut. Sebab, suasana hati si ibu juga bisa memengaruhi si bayi. Stimulasi sebaiknya dilakukan setiap hari, setiap saat ibu bisa berinteraksi dengan janinnya, misal, saat mandi, masak, cuci pakaian, berkebun, dan sebagainya.

Sementara untuk bayi atau balita, stimulasi bisa dilakukan dengan beragam cara sesuai perkembangan usianya, contoh:

Usia 0–3 bulan, berikan rasa nyaman, aman, dan menyenangkan, memeluk, menggendong, menatap mata bayi, mengajak tersenyum, membunyikan suara atau musik, menggerakkan benda berwarna mencolok, benda berbunyi, menggulingkan bayi ke kanan/kiri, tengkurap-telentang, dan dirangsang untuk meraih dan memegang mainan.

Usia 3–6 bulan, bisa dengan bermain “cilukba”, melihat wajah bayi di cermin, dirangsang untuk tengkurap, telentang bolak-balik, duduk.

Usia 6–9 bulan, panggil namanya, salaman, tepuk tangan, bacakan dongeng, rangsang duduk, latih berdiri berpegangan.

Usia 9–12 bulan, mengulang menyebut mama-papa, kakak, masukkan mainan ke dalam wadah, minum dari gelas, gelindingkan bola, latih berdiri, jalan berpegangan.

Usia 12–18 bulan, latihan dengan corat-coret pensil warna, susun kubus, balok-balok, potongan gambar sederhana (puzzle), masukkan dan keluarkan benda kecil dari wadah, main dengan boneka, sendok, piring, gelas, teko, sapu, lap, dan lainnya. Latihlah untuk berjalan tanpa pegangan, jalan mundur, panjat tangga, tendang bola, lepas celana, mengerti dan melakukan perintah-perintah sederhana (mana bola, pegang ini, masukkan ini, ambil itu), sebutkan nama atau menunjukkan benda-benda.

Umur 18–24 bulan, tanyakan, sebutkan, tunjuk bagian-bagian tubuh (mata, hidung, telinga, mulut, dan lainnya), tanyakan gambar atau sebutkan nama binatang dan benda-benda di sekitar rumah, ajak bicara tentang kegiatan sehari-hari (makan, minum, mandi), latihan gambar garis, cuci tangan, pakai baju-celana, main lempar bola, melompat, dan lainnya.

Umur 2–3 tahun, ditambah dengan mengenal dan menyebutkan warna, menggunakan kata sifat (besar-kecil, panas-dingin, tinggi-rendah, banyak-sedikit, dan lainnya), sebutkan nama teman, hitung benda, pakai baju, sikat gigi, main kartu, boneka, masak-masakan, gambar garis, lingkaran, manusia, latihan berdiri di satu kaki, buang air kecil/besar di toilet.

Setelah 3 tahun, selain mengembangkan kemampuan-kemampuan umur sebelumnya, stimulasi ini juga diarahkan untuk kesiapan bersekolah, antara lain; memegang pensil dengan baik, menulis, mengenal huruf dan angka, berhitung sederhana, mengerti perintah sederhana (buang air kecil/besar di toilet), dan kemandirian (ditinggal di sekolah), berbagi dengan teman, dan lain sebagainya. Perangsangan dapat dilakukan di rumah (oleh pengasuh dan keluarga), tetapi dapat pula di kelompok bermain, taman kanak-kanak, atau sejenisnya.

Kompas


Pendidikan Seks Anak Autis

Gangguan perkembangan, terutama dalam berkomunikasi, berinteraksi sosial dan berperilaku, yang dialami oleh anak-anak autis membuat kebanyakan orangtua lebih fokus untuk meningkatkan kemampuan anak dalam berkomunikasi dan bidang akademik lainnya.

Padahal, anak-anak berkebutuhan khusus juga akan berkembang menjadi seorang remaja, mengalami masa puber, dan tertarik pada hal-hal yang berbau seksualitas. Itu sebabnya anak-anak autis tetap perlu mendapatkan pendidikan seks sejak dini.

Sementara itu, kebanyakan orangtua sering kali menghindari diskusi masalah seks dengan anak autis. Padahal, seorang remaja autis tidak punya pengetahuan yang cukup untuk mengerti soal seks karena keterbatasan kemampuan motorik dan perilaku.

Itu sebabnya banyak anak autis punya masalah dalam hal seksualitas, misalnya kebiasaan memegang kemaluan atau menyentuh bagian privat tubuh orang lain.

"Masalah-masalah tersebut biasanya baru disadari orangtua saat sudah menjadi masalah besar, misalnya anak terbiasa melakukannya di tempat umum. Ini karena orangtua tidak mencermati atau mengabaikan perilaku seks anaknya," ungkap Dra Dini Oktaufik, praktisi terapi perilaku.

Dini menuturkan, seorang anak autis juga bisa berkembang layaknya seorang anak normal, baik fisik maupun hormonal. "Mereka juga akan mengalami perkembangan seksual dan punya dorongan yang sama seperti remaja normal," ungkapnya.

Perlu dilatih

Tidak mudah memang mengajarkan seksualitas kepada anak berkebutuhan khusus seperti anak autis. Namun, bila diajarkan sesuai dengan tingkat pemahaman anak dan dilakukan secara berulang-ulang, maa anak akan mengerti.

"Seks adalah sesuatu yang alamiah dan dorongan ini dimiliki semua manusia. Tak perlu kaget jika anak masturbasi karena itu dorongan naluri. Yang penting, ajarkan anak agar tidak melakukannya di sembarang tempat," ungkap Dini di acara Tanya Jawab Autisme yang diadakan oleh Masyarakat Peduli Autis Indonesia (Mpati) di Jakarta, Sabtu (3/4/2010).

Dini menambahkan, sebelum mengajarkan hal-hal yang lebih rumit, seperti perubahan hormonal, yang pertama perlu dimiliki adalah kepatuhan anak. Misalnya, mengajari tentang penggunaan toilet, kebersihan badan, dan rasa malu.

"Anak juga perlu memahami privasi dan bagian-bagian tubuhnya sendiri. Apa yang tidak boleh dipandang ketika berbicara dengan orang lain, serta sentuhan yang boleh dan tidak boleh dilakukan orang lain," paparnya. Untuk anak perempuan, ajarkan mengenai kebersihan saat menstruasi.

Sikap orangtua dan terapis terhadap seksualitas akan memengaruhi pemahaman anak terhadap seks. Untuk itu, Dini menyarankan agar pertama-tama orangtua dan terapis menghilangkan pikiran tabu mengenai seks. "Kita tidak cukup mengasuh anak, tapi juga harus mendidiknya menjadi individu yang mandiri," katanya.

Kompas

Thursday, August 19, 2010

Manfaat Cerita Anak

Padahal, tontonan yang disajikan televisi, yang tersaji mulai dari anak bangun tidur hingga Saat ini, cerita anak bukan lagi hal populer.

Budaya mendongeng atau bercerita kepada anak-anak sepertinya sudah mulai mengendur, tergantikan budaya menonton Televisi, Play Station, Videogame dan teknologi canggih lainnya, belum tidur tentu sesuai untuk usia anak.

Baik itu kartun, sinetron, kuis, reality show, dan sebagainya.

Sebenarnya banyak sekali manfaat yang kita dapatkan dari cerita anak, diantaranya adalah :

* Cerita adalah cara paling pas untuk mendisiplin anak
Di Nepal, anak-anak tidak didisiplinkan melalui hukuman fisik karena para ibu tidak suka melihat anak-anak murung atau menangis. Sebaliknya, mereka mengontrol perilaku anak lewat cerita. Ternyata cara ini cukup berhasil.

* Mempererat ikatan dan komunikasi yang terjalin antara orang tua dan anak.
Anak-anak paling suka mendengarkan cerita anak. Jika kita lakukan setiap hari, maka cara ini dapat membuat kita semakin mengenal anak kita dan sebaliknya. Kalangan ahli psikologi menyarankan agar orangtua membiasakan mendongeng untuk mengurangi pengaruh buruk alat permainan modern. Hal itu dipentingkan mengingat interaksi langsung antara anak balita dengan orangtuanya dengan bercerita sangat berpengaruh dalam membentuk karakter anak menjelang dewasa.

* Mengasah daya pikir, kreatifitas dan imajinasi
Anak dapat membentuk visualisasinya sendiri dari cerita yang didengarkan. Ia dapat membayangkan seperti apa tokoh-tokoh maupun situasi yang muncul dari dongeng tersebut. Lama-kelamaan anak dapat melatih kreativitas dengan cara ini. Anak yang biasa mendengarkan cerita, akan lebih mudah mengungkapkan isi hati dan pemikirannya dengan kata-kata, lisan maupun tertulis. Dia akan memiliki banyak kosa kata.

* Cerita anak merupakan media yang efektif untuk menanamkan berbagai nilai dan etika
Berbagai nilai seperti kejujuran, rendah hati, kesetiakawanan, kerja keras, hingga empati maupun berbagai kebiasaan sehari-hari seperti pentingnya makan sayur dan menggosok gigi. Anak juga diharapkan dapat lebih mudah menyerap berbagai nilai tersebut, karena tidak bersikap memerintah atau menggurui, sebaliknya para tokoh cerita dalam dongeng tersebutlah yang diharapkan menjadi contoh atau teladan bagi anak.

* Cerita anak dapat melatih Multiple Intelligences
Melalui dongeng, jelajah cakrawala pemikiran anak akan menjadi lebih baik, lebih kritis, dan cerdas. Anak juga bisa memahami hal mana yang perlu ditiru dan yang tidak boleh ditiru. Hal ini akan membantu mereka dalam mengidentifikasikan diri dengan lingkungan sekitar disamping memudahkan mereka menilai dan memposisikan diri di tengah-tengah orang lain. Sebaliknya, anak yang kurang imajinasi bisa berakibat pada pergaulan yang kurang, sulit bersosialisasi atau beradaptasi dengan lingkungan yang baru.

* Sebagai langkah awal untuk menumbuhkan minat baca anak.
Setelah tertarik pada berbagai cerita anak, mereka diharapkan mulai menumbuhkan ketertarikannya pada buku. Diawali dengan buku-buku cerita yang sering didengarnya, kemudian meluas pada buku-buku lain seperti buku pengetahuan, sains, agama, dan sebagainya.

Terlepas dari banyaknya manfaat tersebut, hendaknya kita tetap harus berhati-hati. Jika tidak teliti, cukup banyak cerita anak yang rawan menjadi teladan buruk bagi anak-anak. Hal ini disebabkan muatan yang terkandung harus dipertimbangkan dengan kondisi psikologi yang mungkin deserap oleh sang anak, Jangan sampai terjadi kesalahan pemahaman dari cerita tersebut, yang dimaksudkan positif malah menjadi negatif...